Selasa, Januari 11, 2011

Tentang Nikmat, Ujian, Bersyukur & Perasaan Manusia.

Assalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Beberapa hari lalu, saat berjumpa kawan lama yang lama pula tak berjumpa setelah sekian tahun, saya mendengarkan keluh-kesah kekacauan kehidupannya, mau tak mau.

Panjang sekali ceritanya, serta berisikan banyak hal mengejutkan yang saya baru ketahui dari kehidupannya, bahkan yang baru saya ketahui juga dari kehidupan keluarga besarnya yang juga saya kenal, yang saya kira adalah contoh kehidupan yang tenang, kaya harta, bermartabat, dari keturunan orang baik-baik, berpendidikan tinggi, dan sebagainya.

Sembari mendoakan & memberikan saran, saya juga bersyukur dalam hati, bahwa ada hal-hal yang saya rasa lebih baik saya alami daripadanya, bahkan di tengah kekacauan hidup saya, yang padahal saya kira saya sudahlah termasuk makhluk 'yang paling menderita'.

Manusia memang adalah makhluk yang subyektif, bahkan dapat sangat yakin akan hal yang relatif, hingga bahkan dapat yakin bahwa kebenaran itu relatif atau semua versi kebenaran orang adalah benar (misalnya yang diyakini kaum JIL atau Jaringan Islam Liberal atau Fremason/Masonry atau bahkan kaum Filsuf tertentu dan Atheis namun ini insya Allah akan kita bahas di lain waktu).

Padahal kebenaran adalah apa-apa saja yang digariskan sebagai kebenaran, olen Pencipta Alam Semesta, Allah, yang tentu saja amat sangat mengetahui apa saja dari ciptaanNya.

Oleh karenanya, tentu saja, sangatlah penting untuk menuruti petunjuk keselamatan dariNya saja, dalam kehidupan yang diciptakanNya.

Lain, tidak.

Maka sehubungan dengan ini pula, dari aneka ceritanya, di setiap detiknya, saya MEMANG mengenali aneka hal yang sudah diperingatkan Allah dalam Al Quran dan Al Hadits, yang adalah penutup dan penyempurna dari pesan dari Beliau yang sebelumnya, melalui 124.000 Nabi (jumlah Nabi dalam Islam sesuai keterangan dari Hadits Riwayat Ahmad), yang ternyata sudah dilanggar atau terlanggar, baik ia dan keluarganya tahu atau tidak, dan karenanya, mau tak mau, tentu saja, menangguk konesekuensinya pahit getir dan juga manisnya, dalam sistem sunnatullah (hukum Allah) di alam semesta ini.

Namun, Allah juga telah memaafkan (sebagaimana saya kutipkan di ayat di bawah) hal-hal kesalahan kecil, atau bahkan yang kita tidak tahu, yang terlupakan oleh kita, yang kita terpaksa karenanya, dan ia dan kita pun telah pula cukup terselamatkan, karenanya, karena kiranya, ia dan keluarganya (dan kita) tetap berusaha mencapai Tuhannya, walaupun telah terluka parah, telah terguncang hebat, walaupun dengan kualitas yang dimulai dari kualitas paling bawah dalam mendekat kepada Tuhannya, Allah.

Saya pernah membaca kalimat seorang bijak, "Saat Tuhan menutup pintuNya, Beliau membukakan jendelaNya.", yang memanglah ada, "Second Chance", "Third Chance" dan seterusnya, terus, 'sampai akhir menutup mata'.


Semua anak Adam pembuat kesalahan, dan sebaik-baik pembuat kesalahan ialah mereka yang bertaubat. (HR. Addarami)

Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama nyawa belum sampai ke tenggorokan. (HR. Ahmad)

Dari Anas bin Malik rodhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni.

Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, ”hadits ini hasan shahih.” dikutip dari Kitab Hadits Arba'in Imam An Nawawi)


Ah, Allah memang benarlah Asma'ul Husna, Allah Maha Pengasih dan Maha Menutupi dan Mencukupi serta Maha Benar ... :)


Pandanglah orang yang di bawah kamu dan janganlah memandang kepada yang di atasmu, karena itu akan lebih layak bagimu untuk tidak menghina kenikmatan Allah untukmu. (HR. Muslim)

Hadits riwayat Aisyah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasululla...h saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan. (Shahih Muslim No.4664)

Hadits riwayat Abu Said Al-Khudri ra.: Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan sampai perasaan keluh-kesah yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya. (Shahih Muslim No.4670)


QS An Nahl 18 (16:18): Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

QS Al Ankabuut ayat 2-3 (29:2-3):

(2) Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

(3) Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Beliau mengetahui orang-orang yang dusta.

QS At Taubah ayat 16 (9:16): Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Alloh belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Alloh, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS Al Qashash ayat 61. Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?

QS Al Anbiyaa ayat 35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.


Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi Saw menjawab, "Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamnya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi

Allah menguji hambaNya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani)

Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dalam rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridho dengan bagian yang diterimanya maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberianNya. Kalau dia tidak ridho dengan pemberianNya maka Allah tidak akan memberinya berkah. (HR. Ahmad)

Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi)

QS Ibrahim ayat 7 (14 :7). Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Maka..., BUKANKAH RASA BERSYUKUR ITU SENDIRI, adalah sudah merupakan SUATU KENIKMATAN SENDIRI ... YANG SUDAH LUAR-BIASA RASANYA, dan insya Allah akan ditambahi kenikmatan pula?

Bahkan, mari kita lihat, betapa pemaaf, Allah, Tuhan Alam Semesta:


QS Asy Syuraa 30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah MEMAAFKAN sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Dari Ibnu Abbas rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Alloh mengampuni beberapa perilaku umatku, yakni (karena) keliru, lupa dan terpaksa." (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain di Kitab Hadits Arba'in Imam An Nawawi)


Allahu Akbar. Allah Maha Pemurah dan Pemaaf ... Manusialah yang dapat tertutup pemikiran dan mata hatinya. Dan Beliau menerimamu kapan saja engkau ingin bersamaNya.

Apakah Allah menciptakanmu, menciptakan dunia ini, untuk suatu kesia-siaan? :)

Shodaqollohul 'azhiim.

Wallahua'lam.

Wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

sumber
Abdullah Abu Taqi Machicky Mayestino Triono Soendoro. (Mualaf Indonesia)

0 Comment:

Poskan Komentar